KALTARAINFO.COM – Ketua DPW Persekutuan Suku Asli Kalimantan Utara atau Pusaka, Anwar Tasidi meminta pemerintah setempat menindak nelayan yang masih menggunakan pukat trawl.
Lokasi ini terjadi di pinggir pantai Magal, Mening, Mapot dan Tudan. Katanya kondisi ini merugikan nelayan yang hanya mengandalkan alat tangkap tradisional.
“Para nelayan harus bekerjasama dan tetap menjaga kekompakan yang paling utama. Saya harap ada aturan atau pembagian area bagi nelayan trawl tudai dengan nelayan tudai tradisional, sehingga tidak ada masalah atau kendala yang dihadapi,” ujarnya usai bertemu dengan para kelompok nelayan di Bulungan, Minggu (11/04).
Anwar berjanji akan membawa permasalahan yang dialami nelayan tudai tersebut ke instansi di bawah pemerintahan Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwan maupun pemkab.
“Mudah-mudahan dapat dibijaki oleh pemerintah. Hasil alam dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Tudai merupakan jenis kerang seperti kapah yang banyak ditemui di Kalimantan Utara tepatnya di Tanjung Selor. Tudai memiliki daging tebal dan cangkang berwarna hitam serta jingga.
Hasil laut tersebut memiliki potensi daya beli cukup tinggi hingga ke negara Malaysia, Singapura dan Vietnam. Mampu memberikan pendapatan dari segi keuangan yang lagi-lagi cukup untuk hidup sehari-hari nelayan.
“Kami Nelayan tradisional memungut tudai dengan cara manual dipilih lagi tudainya. Yang ukuran kecil tidak diambil sehingga terus ada hasil tangkap dan alampun tidak rusak. Kalau pakai trawl dampaknya selain alam rusak, kami juga tidak bisa mungut tudai lagi karena lumpur dilaut bisa rusak” ujar seorang nelayan, Gusnadi.
(MUH).






Discussion about this post