• Nasional
  • Kaltara
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Komunitas
  • Hiburan
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Pesona
  • Edukasi
  • Perspektif
Menu
  • Nasional
  • Kaltara
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Komunitas
  • Hiburan
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Pesona
  • Edukasi
  • Perspektif
SEPUTAR KALTARA (KALIMANTAN UTARA)
Search
Close

Home » Wahai Pak Zainal Paliwang, Dengarkanlah Keluhan Nelayan Tudai Ini

Wahai Pak Zainal Paliwang, Dengarkanlah Keluhan Nelayan Tudai Ini

by
11 April 2021
in Kaltara
A A
Anwar Tasidi

Anwar Tasidi

12
SHARES
83
VIEWS
PostTweetSendScan

KALTARAINFO.COM – Ketua DPW Persekutuan Suku Asli Kalimantan Utara atau Pusaka, Anwar Tasidi meminta pemerintah setempat menindak nelayan yang masih menggunakan pukat trawl.

Lokasi ini terjadi di pinggir pantai Magal, Mening, Mapot dan Tudan. Katanya kondisi ini merugikan nelayan yang hanya mengandalkan alat tangkap tradisional.

“Para nelayan harus bekerjasama dan tetap menjaga kekompakan yang paling utama. Saya harap ada aturan atau pembagian area bagi nelayan trawl tudai dengan nelayan tudai tradisional, sehingga tidak ada masalah atau kendala yang dihadapi,” ujarnya usai bertemu dengan para kelompok nelayan di Bulungan, Minggu (11/04).

Anwar berjanji akan membawa permasalahan yang dialami nelayan tudai tersebut ke instansi di bawah pemerintahan Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwan maupun pemkab.

“Mudah-mudahan dapat dibijaki oleh pemerintah. Hasil alam dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Tudai merupakan jenis kerang seperti kapah yang banyak ditemui di Kalimantan Utara tepatnya di Tanjung Selor. Tudai memiliki daging tebal dan cangkang berwarna hitam serta jingga.

Hasil laut tersebut memiliki potensi daya beli cukup tinggi hingga ke negara Malaysia, Singapura dan Vietnam. Mampu memberikan pendapatan dari segi keuangan yang lagi-lagi cukup untuk hidup sehari-hari nelayan.

“Kami Nelayan tradisional memungut tudai dengan cara manual dipilih lagi tudainya. Yang ukuran kecil tidak diambil sehingga terus ada hasil tangkap dan alampun tidak rusak. Kalau pakai trawl dampaknya selain alam rusak, kami juga tidak bisa mungut tudai lagi karena lumpur dilaut bisa rusak” ujar seorang nelayan, Gusnadi.
(MUH).

Previous Post

Sungai Malinau Jernih Lagi, Zainal Paliwang Bantah Membiarkan

Next Post

Sulawesi Selatan dan Riau Lawan Berat Takraw Kaltara di PON Papua

Next Post
Situasi Persiapan PON Papua/Net

Sulawesi Selatan dan Riau Lawan Berat Takraw Kaltara di PON Papua

Muhammadiyah: Pasien Corona dan Nakes Tak Diwajibkan Puasa

KPK memanggil Direktur PT Borneo Lumbung Energi dan Metal (BLEM) Nenie Afwani sebagai saksi untuk tersangka pemilik PT BLEM Samin Tan (SMT)

Kasus Korupsi, KPK Panggil Bos PT Borneo Lumbung Energi dan Metal

Wali Kota Tarakan dr Khairul M.Kes/Net

Wali Kota Tarakan Bikin Edaran Salat Tarawih Berjamaah Efektif 8 Rakaat

Dua kelompok mahasiswa pro dan kontra terkait pencemaran sungai oleh PT Kayan Putra Utama Coal

Soal Sungai Malinau Saling Tak Akur, Massa Geruduk Dishub Kaltara

Discussion about this post

Kode Etik | Pedoman Media Siber | Redaksi | Perlindungan Wartawan

© 2025 BacaFakta.id - Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
logo bacafakta
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
  • Ekonomi & Bisnis
  • Politik
  • Internasional
  • Perspektif
  • Edukasi
  • Hiburan
  • Komunitas
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pesona
  • Tekonologi