KALTARAINFO.COM – Balai Karantina Pertanian Klas II Tarakan, Kalimantan Utara, menggelar sosialisasi bahaya virus African Swine fever (ASF) atau disebut juga virus flu babi Afrika, di Kantor BKP Tarakan wilayah Bandara, Jalan Mulawarman, Jumat kemarin (9/4).
Acara dihadiri langsung Kepala BKP Tarakan, Akhmad Alfaraby dengan melibatkan para jurnalis media cetak, elektronik dan online. Santai dengan penuh keakraban dan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19.
Akhmad Alfaraby menjelaskan virus tersebut merupakan penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Pada Februari lalu, kata Akhmad Alfaraby, virus ASF dilaporkan telah menyerang tiga distrik berbeda di Sabah, Malaysia, yaitu Pitas (Kudat), Beluran (Sandakan) dan Kota Marudu (Kudat).
“Kami berharap teman-teman media dapat menyampaikan informasi ini kepada masyarakat karena sudah ada ditemukan di Sabah, terakhir di Tawau,” ujarnya, Sabtu (10/4).
Walau populasi babi di Kaltara tak terlalu banyak, namun bisa berpengaruh pada penyediaan daging babi di Kaltara. Belum ada obat maupun vaksin untuk mencegah penyakit ASF, hanya penerapan biosecurity yang mampu mencegah. Pengawasan lalu lintas babi dan produknya.
“Daerah perbatasan perlu diwaspadai. Jangan sampai masuk dan merugikan peternakan babi di Kaltara. Virus ini pernah terjadi di Sumatera Utara dan beberapa daerah di Indonesia dengan tingkat kematiannya cukup besar,” ujarnya.
Salah satu ciri-ciri ASF pada babi, yakni demam tinggi, kehilangan nafsu makan, muntah, diare, pendarahan pada kulit dan organ.
Kemudian, perubahan warna kulit menjadi ungu, abortus pada babi bunting, ada juga yang menunjukan radang sendi dan akhirnya mati. Meski tak menjangkit manusia akan tetapi manusia bisa menjadi pembawanya.
“BKP Tarakan mengimbau kepada masyarakat untuk melaporkan setiap komoditas tumbuhan maupun hewan sebelum di-lalulintaskan, ” imbuhnya.(BAL).






Discussion about this post