edukata.id – Pemerintah Kabupaten Bulungan bersama perwakilan Kementerian Pertanian meluncurkan secara resmi Rumah Produksi Kakao. Rumah produksi ini disiapkan untuk produk konsumsi berupa bubuk coklat hingga coklat batang yang berada di Desa Pejalin, Rabu (22/5).
Peluncuran rumah produksi ini dihadiri langsung Bupati Bulungan Syarwani, didampingi Wabup Ingkong Ala dan Sekretaris Daerah (Sekda) Risdianto. Hadiri pula sejumlah pimpinan perangkat daerah serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan juga perwakilan Kementerian Pertanian.
Bupati Bulungan mengatakan, rumah produksi yang diusahakan para petani kakao di Bulungan tersebut. Sudah mampu mengolah biji kakao menjadi produk siap konsumsi, berupa bubuk coklat hingga coklat batang yang telah dikemas secara menarik.
“Kegiatan hilirisasi kakao ini juga didukung beberapa kelembagaan, terkait status produksi, sertifikasi halal maupun Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Kita harapkan produk ini bisa masuk di pasaran dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat Bulungan,” ujar Syarwani.
Menurutnya, proses hilirisasi biji kakao menjadi coklat siap konsumsi, merupakan salah satu wujud pencapaian 15 program prioritas Kabupaten Bulungan, satu desa satu produk.
“Ini salah satu wujud implementasi program satu desa satu produk,” sebtny.
Saat ini luas tanam kebun kakao masyarakat Desa Pejalin sekitar 10 hektar yang telah berproduksi, dengan potensi pengembangan mencapai 120 hektar.
“Akan terus kita tingkatkan (produksinya) bersinergi dengan pemerintahan desa, melalui Alokasi Dana Desa (ADD). Termasuk melalui program Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE),” terangnya.
Bupati menambahkan, melalui program TAKE Bulungan Hijau tahun anggaran 2023, Pemda telah memberikan 7 mesin pengolah biji kakao menjadi coklat untuk rumah produksi coklat Desa Pejalin.
“Rumah produksi ini bukan hanya mampu mengolah biji kakao menjadi bubuk coklat, tapi juga mengemas produk sehingga dapat dipasarkan secara luas,” jelas Syarwani.
Hal tersebut diharapkan semakin memotivasi dan memacu semangat petani coklat di Bulungan untuk terus meningkatkan produksinya.
“Saya bersama seluruh jajaran, berkomitmen mengawal satu desa satu produk benar-benar kita wujudkan sesuai dengan keunggulan dan potensi yang dimiliki tiap desa di Bulungan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, diundang pula 50 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta para pemilik kafe yang bisa menjadi mitra pemasaran produk olahan pertanian masyarakat Desa Pejalin.
“Kita harapkan kafe yang ada di Bulungan nantinya tidak hanya menyajikan kopi. Bisa dikombinasikan dengan coklat panas atau dingin yang bahan bakunya diproduksi oleh masyarakat kita sendiri,” harap bupati.
Termasuk kegiatan perangkat daerah, nantinya dapat menghadirkan produk tersebut.
“Jika sebelumnya kita mengenal coffee break, bisa juga menjadi coklat break. Ini adalah upaya pengenalan dan menyerap produksi dari para petani kita,” lanjutnya.
Bupati menambahkan melalui APBD 2024 Pemda Bulungan juga telah mengalokasikan kembali untuk program TAKE Bulungan Hijau senilai Rp5 Miliar. Namun tidak serta merta anggaran tersebut dibagikan pada masing-masing desa. Program TAKE Bulungan Hijau mengusung konsep semangat berkompetisi.
“TAKE ini tidak kita bagi rata, tidak kita sebarkan secara sporadis tanpa adanya spirit kompetisi. TAKE ini bisa bicara tentang mesin pengolahan coklat, bisa saja mesin penggiling kopi, merica, mesin pencacah plastik dan tahun ini beberapa desa sudah melakukannya. Sehingga nantinya kita bisa menuju satu desa satu produk,” tuturnya.
Dia juga menyampaikan apresiasi pada semua pihak yang turut mendukung berbagai program strategis Pemda Bulungan. Termasuk para Non Governmental Organization (NGO) peduli lingkungan, seperti Sawit Watch serta NGO lainnya.
“Saya mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan NGO yang mendukung berbagai program strategis Pemda Bulungan. Membangun bidang pertanian tidak hanya harus bersumber dari APBD Bulungan. Banyak pihak yang bisa dilibatkan termasuk pengusaha, serta para rekan-rekan NGO,” tuntasnya. (edu)






Discussion about this post