KALTARAINFO.COM – Kerang tudai banyak ditemukan di wilayah perairan Kalimantan Utara. Potensi ini memiliki daya beli cukup tinggi hingga ke negara Malaysia, Singapura dan Vietnam.
Namun sayangnya menjadi lahan jarahan pengguna pukat trawl yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Nelayan mengeluhkan hal tersebut.
“Kami nelayan tradisional terkadang bersamaan dengan nelayan pukat trawl. Kami secara manual, disitu juga ada nelayan tudai dengan cara men-trawl,” kata Ketua Kelompok Nelayan Tudai Kita Bisa Jaya, Tanjung Palas, Syamsuddin di Tanjung Selor kepada Kaltarainfo.com, Rabu (7/4).
Situasi itu terjadi di pinggir Pantai Magal, Mening, Mapot, dan Tudan. Menyebabkan nelayan-nelayan tradisional tergusur pendapatannya. Dan tak ingin terjadi konflik antar nelayan, kata Syamsuddin, mereka enggan menegurnya.
“Kalau ada aturan mungkin kami bisa. Kami mengharapkan adanya kebijakan Pemprov maupun Pemkab Bulungan menjawab kendala ini. Kalau sudah ada nelayan trawl, lumpur jadi rusak dan mengurangi hasil tangkapan kami,” ucapnya.
Syamsudin berharap pemerintah mengatur kebijakan lokasi khusus bagi nelayan trawl untuk beroperasi.
“Nelayan tradisional memungut tudai dipilih lagi tudainya. Yang ukuran kecil tidak diambil, sehingga terus ada hasil tangkap kami dan alam pun tidak rusak,” ucapnya.(MKS/WSR)






Discussion about this post