MALINAU, Bacafakta.id — Di tengah belantara Kalimantan Utara yang sunyi, berdirilah sebuah “monumen kutukan” yang seharusnya menjadi jembatan harapan. Kini, ia menjelma menjadi saksi bisu dari pengkhianatan terhadap rakyat. Jembatan penghubung di Apau Kayan, Kabupaten Malinau, yang mestinya menjadi nadi kehidupan, telah mangkrak selama lima tahun penuh derita.
Tiang-tiang besi yang tadinya hendak mengangkut mimpi rakyat, kini terpelanting di dasar sungai, berkarat dan terjerembap seperti tubuh tanpa nyawa. Balok-balok baja tercerai-berai, seperti luka terbuka yang terus menganga—pengingat akan anggaran yang lenyap entah ke mana, dan tangis warga yang tak pernah sampai ke telinga kekuasaan.
“Jembatan ini bukan cuma soal pembangunan. Ini soal hidup dan mati. Masyarakat menyeberangi arus sungai berbahaya hanya demi sekolah. Ibu hamil harus dipanggul berjalan berjam-jam karena ambulans tak bisa masuk,”
Ironis, jembatan yang dirancang untuk membuka akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi justru menjebak warga dalam keterisolasian. Di musim penghujan, sungai berubah menjadi arus maut, menelan risiko nyawa setiap orang yang berani menyeberang. Namun proyek itu tetap terbengkalai, seolah tidak ada dosa dalam pengabaian ini.
Pihak berwenang bungkam. Audit tak kunjung dilakukan. Dana miliaran rupiah yang konon dikucurkan, hilang seperti hantu di kabut rimba Kaltara.
Di tengah janji-janji pembangunan yang terus diulang, rakyat Apau Kayan hanya bisa menggantungkan harapan pada langit. Lima tahun berlalu, tapi jangankan solusi, bahkan kepedulian pun tak tampak.
Jembatan itu kini punya nama sendiri: “Jembatan Hantu”, sebab seperti hantu, ia ada namun tak berguna, berdiri namun tak bisa disentuh—mencekam dan menyakitkan.






Discussion about this post