TANJUNG SELOR, edukata.id – Kondisi infrastruktur jalan di wilayah Krayan, Nunukan Kalimantan Utara (Kaltara) belakangan ini menjadi sorotan. Hal ini disebabkan kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan karena telah terjadi kerusakan di mana-mana.
Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara, Marli Kamis saat dikonfirmasi mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara
atas respons cepatnya terhadap keluhan masyarakat yang sempat disampaikan melalui lembaga legislatif beberapa waktu lalu.
“Informasinya akan ada pergeseran anggaran sekitar Rp 20 miliar untuk penanganan jalan yang rusak di Krayan itu. Nah, di sini saya mengharapkan pengerjaannya nanti dibuat maksimal,” ujar Marli, Kamis (10/8).
Politisi Partai Demokrat ini mencontohkan, ada salah satu ruas jalan di Krayan Selatan, itu panjangnya sekitar 7 kilometer terhitung mulai dari Kantor Camat Krayan Selatan menuju ke arah Pa’ Upan. Ini konstruksinya dibangun dengan sistem telpot.
“Jadi istilah waktu itu telpot. Dia itu dipasang batu besar-besar dulu di bagian bawah, setelah itu baru disusul dengan batu kecil dan terakhir bagian atas menggunakan tanah. Nah, kami minta bentuknya seperti itu,” kata Marli.
Menurutnya, dengan kondisi yang ada sekarang ini, masyarakat di wilayah perbatasan Kaltara, salah satunya di Krayan itu tidak perlu dibangunkan jalan hingga konstruksi aspal. Cukup sampai perkerasan, tapi kualitasnya terjamin.
“Karena kalau hanya ditimbun menggunakan kerikil kecil, dia pasti tergerus air jika terkena curah hujan yang tinggi. Beda dengan yang telpot di depan kantor camat itu, sampai sekarang tidak rusak. Masih utuh,” tuturnya.
Padahal, lanjut Marli, pembangunan jalan itu dilakukan sejak dirinya masih duduk di kursi DPRD Nunukan. Tidak ingat persisnya, tapi jika dihitung-hitung pembangunan jalan telpot itu sudah sekitar 6 atau 7 tahun lalu.
“Memang sistem itu sudah tidak ada sekarang digunakan. Tapi kalau melihat kondisi geografis di Krayan itu, saya rasa sistem ini yang tepat. Karena di sana itu musim panas sedikit, yang banyak itu musim hujan,” tuturnya.
Marli menyebutkan, mulai 2020 hingga 2022 lalu, di wilayah perbatasan ini ada pemeliharaan jalan, tapi begitu diterjang hujan, hancur kembali. Sekalipun menggunakan
tanah pilihan, kalau tidak menggunakan baru besar di bawahnya, dia pasti akan cepat hancur.
Memang, anggaran untuk sistem telpot ini cukup besar. Tapi kualitasnya juga lebih baik dan penggunaanya sesuai dengan kondisi geografis di Krayan. Makanya sistem ini menjadi atensi khusus dari pihaknya. (edu)






Discussion about this post