TANJUNG SELOR, Bacafakta.id — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, terutama melalui program-program berbasis komunitas seperti pengelolaan sampah, penghijauan, dan penerapan teknologi ramah lingkungan.
Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya adaptasi iklim yang tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH Bulungan, Kahardiansyah, menjelaskan bahwa peran aktif masyarakat merupakan kunci untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.
Menurutnya, perubahan perilaku sederhana di tingkat rumah tangga dapat memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara konsisten.
“Adaptasi perubahan iklim tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Langkah kecil seperti memilah sampah, menanam pohon, membuat biopori, atau penampungan air hujan akan sangat berdampak bila dilakukan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, DLH Bulungan saat ini tengah memperluas Program Kampung Iklim (Proklim), salah satu program nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mendorong aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis wilayah. Sejak mulai dilaksanakan pada 2024, setidaknya enam desa dan kelurahan di Bulungan telah menjadi lokasi Proklim.
Enam wilayah tersebut meliputi, Kelurahan Tanjung Palas Hulu, Kelurahan Tanjung Palas Hilir, Desa Pejalin, Kelurahan Tanjung Selor Timur, Kelurahan Bunyu Barat, dan Kelurahan Bunyu Timur.
Program ini berjalan selaras dengan visi Kabupaten Bulungan dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
“Kita menargetkan jumlah itu meningkat menjadi 10 desa pada tahun 2025,” jelas Kahardiansyah.
Ia menambahkan bahwa setiap desa Proklim difokuskan pada sejumlah kegiatan strategis, mulai dari gerakan penghijauan, pengelolaan sampah terpadu, hingga penerapan teknologi ramah lingkungan yang mudah diterapkan masyarakat.
Pada wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan air bersih, DLH mendorong penerapan teknologi biopori, sumur resapan, dan panen air hujan untuk meningkatkan ketersediaan air dan mengurangi risiko kekeringan.
Program ini juga melibatkan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, termasuk penyadaran pada anak-anak dan remaja untuk menjaga lingkungan sejak dini.
DLH Bulungan berharap gerakan kolektif ini dapat memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tengah kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
“Harapan kita seperti itu, agar masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi pelaku utama dalam menjaga lingkungan,” ujar Kahardiansyah.
Dengan perluasan Proklim, pemerintah daerah menargetkan Bulungan mampu menjadi salah satu kabupaten yang aktif dalam mitigasi perubahan iklim, berorientasi pada aksi nyata yang melibatkan masyarakat di tingkat paling dasar. (*)






Discussion about this post