Perkebunan merupakan sebuah sektor yang menjanjikan. Namun butuh konsistensi dalam menjaga harapan, agar tantangan bisa dilalui, sehingga dapat menghasilkan produk. Tidak terkecuali bagi komoditas kakao di Kabupaten Bulungan, di mana petani yang tetap merawat kebunnya, kini sudah kembali bangkit dan terus berkembang.
(RIZQY-EDUKATA.ID)
SEKTOR – Perkebunan di Kabupaten Bulungan, menjadi salah satu tumpuan bagi masyarakat. Terlebih yang berada di wilayah pedesaan, di mana kuantitas lahan masih tersedia.
Seperti cerita inspiratif yang dibeberkan oleh seorang perempuan lanjut usia bernama Mama Baun. Warga Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur itu memiliki lahan perkebunan seluas 1 hektare (Ha).
Ditemui pewarta di sebuah pondok yang dikelilingi pepohonan kakao yang ‘dihiasi’ buah yang hampir matang. Dia menyambut dengan senyum hangat.
“Silakan, beginilah suasana di kebun,” ujarnya menyambut kedatangan media.
Kebun kakao yang dikelola oleh anaknya bernama Baun alias Aren, bukan kebun baru. Dia membeberkan, bersama mendiang suaminya telah melakukan budidaya kakao sejak tahun 1989. Bahkan, kala itu, produksi kakao menjadi salah satu andalan mereka sebagai produk yang menopang ekonomi keluarga.
“Dari dulu memang kami sudah tanam kakao bersama bapak (mendiang suami Mama Baun). Dulu bagus buah kakao, walaupun harganya tidak seperti sekarang,” katanya memulai cerita.
Hanya saja, buah kakao yang menjadi harapan saat itu, perlahan mulai ‘tumbang’. Di mana, hama dan penyakit menyerang komoditas yang bisa menghasilkan produk cokelat tersebut.
“Sudah lupa itu tahun berapa. Tapi waktu itu, kakao ini kena hama. Jadi buahnya keras dan sulit untuk dijual lagi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuatnya hampir menyerah. Kebun yang sebelumnya produktif, terpaksa harus ‘direnovasi’. Yakni, dengan menanam komoditas lain seperti buah duku hingga kelapa.
“Tapi masih ada sisa-sisa pohon kakao yang kami tetap rawat,” lanjutnya.
Mama Baun bersama keluarganya, harus tetap bertahan. Sampai kemudian, di tahun 2015, mereka ‘dilirik’ oleh PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) lewat program pemberdayaannya.
Bantuan berupa pembinaan dan pendampingan petani didapatkan oleh pihak keluarga Mama Baun. Yakni dengan mendapatkan asupan bibit baru, pengembangan tata kelola kakao yang lebih modern, hingga mengatasi masalah hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakaonya.
“Kami ambil bibit baru dari Berau. Itu yang dibantu oleh PKN kepada kami. Itulah yang mulai kami urus lagi,” jelasnya.
Ternyata, dengan bertahan, Mama Baun dan keluarga bisa melewati tantangan. Lewat kebijakan perusahaan ditambah dengan keuletan sebagai pekebun, Mama Baun bersama mendiang suami, yang kini dilanjutkan oleh anaknya mulai panen kakao di tahun 2017.
“Sekitar dua tahun itu sudah bisa panen. Memang beda dengan pohon yang dulu (lebih tinggi). Yang sekarang itu dia sambung samping,” terangnya.
Sejak 2017, kebunnya sudah memiliki sekitar 800 pohon kakao. Meski dia mengakui, baru terdapat 600 pohon yang produksi secara maksimal.
“Kalau sekarang panen itu bisa sampai dua kali dalam satu bulan. Ini kami baru-baru saja selesai panen,” katanya saat ditemui pada akhir November 2024.
Ditanya perihal ekonomi keluarga, Mama Baun kembali ‘melempar’ senyum. Pasalnya, puluhan kilogram sudah bisa diperoleh tiap kali panen.
“Jualnya juga sudah tidak susah. Karena dari PKN selalu siap beli hasil panen. Harganya itu Rp80 ribu per kilogram. Itu harga kering, dan mereka juga bisa beli dalam kondisi basah,” sambungnya.
Dia berharap, ke depan tanaman kakao itu bisa terus tumbuh dan menghasilkan buah yang lebih berkualitas. Meski sudah di usia senja, dia tetap ikut mendampingi anaknya mengelola budidaya kakao itu.
“Saya suka ke kebun ikut bantu-bantu. Memang anak yang merawat kakao ini. Harapannya bisa semakin baik, dan perusahaan (PKN) juga bisa terus mendampingi dan memberikan bantuan kepada kami,” tutupnya. (***)






Discussion about this post