TANJUNG SELOR, KALTARAINFO.COM – Prestasi tidak diraih secara instan. Butuh perjuangan keras, berlatih dan berusaha. Dengan selalu ditempa sejak dini, saat prestasi bisa diperoleh, akan memiliki rasa yang luar biasa.
Begitu lah prinsip yang ditanamkan Muhammad Mursid. Mantan petenis andalan Kalimantan Timur (Kaltim) di tahun 1990 hingga 2000-an silam. Di kala Kalimantan Utara (Kaltara) masih bagian dari Kaltim.
Tak ada yang mengenal sosok ini. Utamanya di kalangan pecinta olahraga tenis.
Berbagai medali, penghargaan dan piala diperoleh dari sejumlah kejuaraan tenis yang pernah diikuti sejak masih remaja. Mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Atas prestasinya itu pula, Pemerintah Daerah kala itu banyak memberikan penghargaan. “Prinsip yang selalu saya pegang, bahwa sebuah prestasi akan bisa kita peroleh, jika kita mau bekerja keras. Semua tidak bisa diraih dengan mudah,” kata Mursid.
Ada banyak kejuaraan yang pernah diikuti, dan banyak kenangan pertandingan yang berkesan bagi dia. Salah satunya saat menjadi Juara Tunggal Putra, Ganda Putra, serta beregu putra junior Kaltim kelompok umur 18 tahun pada tahun 1993. “Saat itu saya menyumbangkan 3 mendali emas untuk kontingen Samarinda (Kaltim). Dan kami berhasil menjari juara umum,” ungkapnya.
Di Kaltim, Mursid juga beberapa meraih juara pada kompetisi daerah, seperti Kapolda Cup, kejuaran hari lingkungan hidup, dan lain-lainnya.
Juga ada kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional yang mengesankan. Di Makassar, DKI Jakarta, dan pulau Jawa, bahkan kejuaraan tenis di negeri jiran Malaysia.
“Kejuaraan tenis junior Kaltim yang kami ikuti, menjadi kejuaraan yang sangat berkesan, dibanding kejuaraan sebelum dan sesudahnya,” kata Mursid lagi. Ketika itu, Muhammad Mursid dinobatkan sebagai pemain terbaik, dan mengantarkan Samarinda juara umum untuk yang kesekian kalinya.
“Itu juga kejuaraan tenis junior yang terakhir saya ikuti, mengingat batas usia junior batas umur tidak boleh di atas 18 tahun,” imbuhnya.
Selepas dari kelompok umur junior, menjadi momen hijrahnya Mursid ke utara Kaltim (yang sekarang Kaltara).
Kala itu, Mursid bertemu dengan Anggunawan (almarhum), sosok pengusaha asal Tarakan yang memang penghoby tenis. Dia menjadi anak asuh alm Anggunawan, dan ikut ke Tarakan. Tarakan yang kala itu, masih bagian dari Kabupaten Bulungan.
Anggunawan banyak membina atlet-atlet tenis di Kaltim bagian Utara. Termasuk Mursid. Anggun sapaan akrabnya juga membiayai kuliah, kursus komputer, memberikan honor perbulan dan keperluan lainnya. Termasuk setiap mengikuti turnamen tenis di luar daerah semua dibiayai oleh alm Anggun.
“Waktu saya akan berangkat ke Bulungan (Tarakan–saat itu), banyak tantangannya. Terutama orang tua di Samarinda. Apalagi saya masih terlalu muda. Di sisi lain, banyak cibiran, cemoohan yang juga saya terima, karena saya dianggap meninggalkan Samarinda. Tapi itu justru memberikan motifasi bagi saya, untuk nekad hijrah. Saya ingin meningkatkan karir dan hobi saya di olahraga tenis,” ungkapnya yakin.
Berkat keuletan, kerja kerasnya, prestasi Mursid pun semakin meningkat. Hingga akhirnya betah di Bulungan dan menetap. Seiring perjalanan waktu, setelah selesai kuliah Allah SWT mentakdirkan Mursid menjadi PNS di Kabupaten Bulungan, bahkan menemukan jodoh di Bulungan.
“Tenis bagi saya bukan sekedar hoby, tapi sudah menyatu dengan jiwa kami. Dan kini itu juga diikuti anak saya, Farhan. Seperti saya katakan, untuk berprestasi butuh kerja keras, tidak mudah menyerah. Dan itu juga yang saya tanamkan ke anak saya,” pungkasnya. (MH/KI)






Discussion about this post