TANJUNG SELOR, KALTARAINFO.COM – Bak jaring tergulung ombak, persoalan dua kelompok nelayan tudai tradisional dan nelayan trawl semakin hari semakin kusut dan sulit terurai. Padahal, akar persoalannya adalah perbedaan alat tangkap dalam mengais rezeki di lautan.
Halhasil, kelompok nelayan tudai tradisional mengecam penggunaan trawl yang marak digunakan di bibir pantai wilayah perairan Bulungan karena dianggap tidak ramah lingkungan dan berimbas pada pengurangan hasil tangkapan nelayan tudai tradisional.
Ketua Kelompok Nelayan Tudai Tradsional Sei Putet, Taskim Hertanto menuturkan, guna mengakhiri masalah ini, diharapkan pemerintah daerah dapat mengeluarkan aturan terkait kegiatan dimaksud.
“Kalau bisa pemerintah provinsi maupun kabupaten menentukan lokasi bagi nelayan trawl demikian pula untuk plang larangan trawl. Karena kami nelayan tudai tradisional, memungut tudai ini hanya di pinggir pantai saja. Itu pun dengan cara dipungut, dan cara tradisonal ini tidak merusak lingkungan,” ujar Hartanto, Selasa (8/6).
Ia juga meminta pemerintah terus mengawasi kegiatan penangkapan ikan di perairan Bulungan, khususnya pengguna trawl. Lantaran, nelayan trawl ini bukan hanya dari Kaltara tapi ada juga dari luar Kaltara.
“Selama ada nelayan trawl, sekarang hasil kami mungut tudai sampai 2 kaleng saja dalam 1 hari. Kalau dulu, belum ada trawl bisa dapat sampai 3 hingga 4 kaleng,” jelasnya sembari menyatakan bahwa jumlah nelayan tudai tradisional saat ini kurang lebih 300 orang.
Sementara itu, menanggapi masalah ini Bupati Bulungan Syarwani mengatakan bahwa alat tangkap nelayan trawl ini memang sudah diatur. Dan, ia meyakini penggunaannya dapat mematikan usaha nelayan tudai tradisional di Bulungan. “Dengan adanya aturan dan larangan tentu penegakan hukum yang harus dilakukan kedepan,” ungkap Syarwani saat dikonfirmasi Kaltarainfo.com, Rabu (9/6).
Untuk itu, Syarwani meminta kepada Dinas Perikanan Kabupaten Bulungan untuk turut serta mengawasi proses kegiatan penangkapan ikan di Kabupaten Bulungan. “Karena kalau nelayan yang menggunakan trawl menangkap tudai, itu sangat merusak lingkungan dan mempercepat habisnya habitat tudai. Berbeda kalau dengan cara yang sederhana atau tradisional, selain ramah lingkungan, habitat tudai juga akan terus ada,” tuntasnya.(MH/KI)






Discussion about this post