- Diskusi DKD Kaltara bersama Masyarakat Desa Kelubir Didukung PT PKN
edukata.id – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan salah satu daerah yang kaya akan tradisi dan kebudayaan yang masih lestari. Seperti diketahui, wilayah yang menjadi provinsi ke-34 ini, merupakan bekas wilayah Kesultanan Bulungan.
Kesultanan Bulungan pernah menguasai wilayah pesisir yang terdiri dari beberapa daerah yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan dan Tawau (Sabah sekarang) yang di dalamnya terdapat bermacam-macam suku.
Setidaknya ada sebanyak tiga suku asli Kaltara yang eksis hingga saat ini. Di antaranya Suku Bulungan, Suku Tidung dan Suku Dayak, dengan masing-masing sub sukunya. Keberagaman suku itu juga senada dengan keberagaman budaya dan keseniannya.
Termasuk di Kabupaten Bulungan, sebaran etnis baik yang termasuk di dalam tiga suku asli maupun etnis dari berbagai daerah di Indonesia kini saling berkolaborasi dalam berbagai bidang. Termasuk di sisi seni dan budaya, keanekaragaman yang dimiliki oleh Bulungan, perlu dikembangkan lewat banyak media pertunjukan.
Hal itu dipandang perlu mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di Bulungan. Menyambut potensi itu, PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) berinisiatif untuk mengembangkan seni dan budaya, khususnya di desa dampingan dengan konsep pentahelix alias kolaborasi.
Terlibat langsung dalam pengembangan seni dan budaya itu, adalah Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltara. Di mana, pada Selasa (31/1/2023), dilaksanakan Forum Group Discussion (FGD) yang menghadirkan puluhan peserta. Terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda hingga pegiat seni.
Selain itu, hadir pula pihak pemerintah, baik dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulungan sebagai salah satu pemapar. Termasuk Kepala Desa Kelubir serta Ketua Adat Kayan Desa Kelubir.
Diskusi tersebut berjalan lancar, dan melahirkan sejumlah usulan untuk membangkitkan seni dan budaya setempat. Sesuai tujuan diselenggarakannya FGD itu, didapatkan sejumlah potensi yang bisa dikembangkan. Sekaligus di dalamnya, dapat dipetakan penyusunan agenda seni dan budaya yang bisa diselenggarakan dengan melibatkan semua unsur.
Salah satu peserta diskusi bernama Surang mengemukakan, momen tersebut membangkitkan semangat kebudayaan. Apalagi, potensi seni di Kelubir seperti tari-tarian, musik tradisional, permainan tradisional, seni ukir hingga makanan khas sangat beragam.
“Kami sadar macam-macam seni seperti tari-tarian, musik tradisional, seni ukir, hampir sudah tidak dimainkan. Untuk itu, kami berharap ini momen kebangkitan, yang kemudian ada pelatihan untuk selanjutnya dipertunjukkan,” jelasnya.
Tak hanya itu, senada dengan peserta lainnya, Maria, bahwa ada sejumlah momen yang dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan seni dan budaya. Seperti pesta budaya, pesta panen, musyawarah besar keluarga Kayan. Hal itu menurutnya juga menjadi momen pengembangan wisata di desa tersebut.
“Itu bisa dimanfaatkan untuk jadi wisata, apalagi kita punya balai adat. Kita juga punya kerajinan tangan yang bisa ditampilkan. Hanya saja selama ini masih terkendala beberapa hal, sehingga butuh dukungan desa, kabupaten, dan harapannya bisa didukung juga oleh dewan kesenian,” tuturnya saat diskusi.
Ketua Adat Kayan Desa Kelubir Heng Anye turut mendukung langkah pengembangan seni dan budaya itu. Dia berharap, dengan adanya kolaborasi DKD, PT PKN, pemerintah dan masyarakat, kendala perihal kurangnya alat musik, fasilitas hingga SDM dapat teratasi.
“Harapan kita dari pariwisata dan kesenian, memperhatikan soal alat yang diperlukan dalam kegiatan kita. Ada perhatian dan memberikan masukan kepada kami. Kalau tidak ada pendampingan mungkin selalu kami lupa. Untuk itu mohon dukungan pariwisata dan dewan kesenian,” ujarnya.
Adapun dari hasil diskusi tersebut, setidaknya ada sejumlah poin yang menjadi atensi bersama. Di antaranya, terkait sejarah Kayan di Kelubir, yang bisa dijadikan tulisan atau buku. Lalu ada potensi pengembangan makanan khas tradisional, kerajinan tangan, tari-tarian, musik tradisional hingga seni ukir.
“Untuk itu kita lakukan pemetaan potensi. Kemudian inputnya masuk dalam proses. Misalnya bagaimana peralatan musiknya, bagaimana pelatihannya, sehingga perlu dibentuk kelompok,” terang Comdev PT PKN Ardi A Kaudis.
Kemudian, sambungnya, untuk outputnya, dapat diadakan sebuah pertunjukan dengan memanfaatkan sejumlah momen di desa. Dalam pertunjukan itu, selain menampilkan seni pertunjukan, juga bisa memamerkan seni hasil kerajinan tangan.
“Sehingga ada dampak. Yaitu jumlah pendapatan masyarakat bisa bertambah. Karena contoh makanan, kerajinan tangan itu punya nilai jual. Di samping itu, jadi objek wisata, dan orang lebih tertarik datang berkunjung,” terangnya.
Sementara Ketua DKD Kaltara M Dicky Umacina, menegaskan akan melakukan pendampingan terhadap seni dan budaya itu. Bahkan dia mendukung penuh kebangkitan kebudayaan yang merupakan warisan nenek moyang.
“Kita coba lakukan pendampingan, mulai pelatihan seni sampai kembangkan potensi wisatanya. Kita berharap Desa Kelubir maju dengan budayanya, sukses budaya, dan sukses ekonominya,” katanya menambahkan. (edu)






Discussion about this post